OPPA AND ME || BTS J-HOPE FANFICTION || TWOSHOT [2/2]


Oppa and Me

AUTHOR:CHACHA | MAIN CAST:JUNG HOSEOK(J-HOPE)&LEE YEONI(OC) | 
GENRE:FAMILY,HURT/COMFORT&ROMANCE | RATTING : PG-14 |
 DISCLAIMER : THIS FF PURELY MINE. NO PLAGIARISM AND SILENT READERS PLEASE,SO KEEP>>RCL! ^^

Esok harinya. Ibu Yeoni tidak dapat menjemput Yeoni saat pulang sekolah. Pada akhirnya ibu Yeoni menyuruh Hoseok untuk menjemput Yeoni, dan langsung membawa Yeoni kerumahnya untuk mengikuti les seperti biasa. Hoseok menuggu Yeoni sambil bersandar pada mobil mahalnya. Sesekali lelaki itu melirik arlojinya. ‘Lama sekali’ pikirnya.

Setelah berjam-jam menunggu. Akhirnya ia melihat gadis yang ditunggu-tunggunya keluar dari gedung sekolahnya dan sedang berjalan menuju pintu gerbang. Hoseok senang melihat Yeoni, namun mendadak ia langsung cemburu melihat seorang murid laki-laki terlihat seperti tengah menawari Yeoni untuk naik ke motornya.

Yeoni menolak.Namun sepertinya lelaki itu tetap angkuh.Lelaki itu melepas helmnya dan menghalangi jalan Yeoni.

“Ayolah, hanya sekali saja. Ibumu tidak akan marah kok! Aku jamin”

“Sudah kubilang aku harus le-”

Chup!

Mata Yeoni terbelalak tebar, tatkala murid pindahan bernama Park Jimin itu berani mencium bibirnya secara tiba-tiba. Seseorang yang baru saja tujuh bulan memasuki dan mengusik kehidupannya. Sekarang, dengan berani menciumnya seperti itu ditempat umum.

Hoseok mengalihkan pandangannya dari pemandangan tak mengenakkan itu, dengan tangan yang terkepal kuat. Yeoni menampar pipi Jimin dengan keras. Wajah Yeoni memerah karena menahan marah, namun Jimin salah mengartikannya dan berniat menggoda Yeoni.

“Waah…wajahmu sampai memerah begitu. Apa itu ciuman pertamamu?” goda Jimin.

“Candaanmu kali ini benar-benar keterlaluan TUAN PARK!!!” geram Yeoni dengan mata berkaca-kaca. Jimin memantung, ia baru menyadari jika ia telah membuat kesalahan besar. Baru saja ia berniat untuk meminta maaf gadis itu langsung berlari meninggalkan Jimin sendirian.

Yeoni terus berlari sampil menangis sesegukan. Sampai di depan pintu gerbang, Hoseok menahan lengan Yeoni. Gadis itu nampak, terkejut melihat kehadiran Hoseok disana.

“Gwenchana?” tanya Hoseok.

“O-oppa….”lirih Yeoni, lalu berhambur memeluk Hoseok dan kembali menangis. Hoseok masih terdiam, emosinya kian memuncak melihat Yeoni menangis.

“Haruskah aku memberinya pelajaran?” geram Hoseok.
Yeoni terkejut, dengan hati-hati ia mendongak menatap Hoseok “Oppa melihatnya?”

Hoseok tak menjawab, tangannya terkepal kuat. Ia hendak pergi untuk menghajar Jimin. Namun Yeoni menahan tangannya. Sorot mata Yeoni membuat Hoseok luluh. Mengerti maksud dari tatapan mata Yeoni, Hoseok pun mengurungkan niatnya untuk menghajar Jimin.

“Baiklah, ayo kita pulang sekarang”

Yeoni mengangguk. Hoseok pun menuntun Yeoni masuk kedalam mobilnya dan membawanya pergi dari kawasan sekolah itu.

***

Hoseok membawa dua gelas coklat panas ke ruangan dimana Yeoni sedang memainkan piano. Hoseok memandangi Yeoni sejenak sebelum menghampiri gadis yang tengah mengalunkan musik yang terdengar begitu sedih.Gadis itu menatap nanar ke luar jendela semabari terus memainkan pianonya.Cuaca begitu buruk diluar sana.Hujan terus mengguyur kota Seoul disertai dengan badai.

“Apa yang sedang kau lihat?”

Gadis itu berhenti menekan tuts-tuts pianonya dan menoleh kearah Hoseok “Ah, bukan apa-apa” sangkalnya.

“Gwenchana? Kulihat kau begitu pucat, apa kau mau beristirahat?” Hoseok menaruh puggung tangannya pada kening Yeoni. Nampak semburat merah merona di pipi Yeoni. Dengan perlahan, gadis itu menjauhkan tangan Hoseok dari wajahnya.

“Aku baik-baik saja”

“Tidak. Sepertinya kau sedikit demam”

“Oppa, jangan terlalu khawatir. Aku benar-benar sehat” ucap Yeoni meyakinkan Hoseok.

Hoseok menyerah, terlihat dari cara lelaki itu menghela nafasnya “Baiklah. Ini, aku membuat coklat panas untukmu.” ujarnya sembari menyodorkan segelas coklat panas untuk Yeoni.

“Gamsahabnida” Yeoni menerima segelas coklat panas itu, meniupnya sejenak lalu menyesapnya sedikit. “Ahh…aku merasa lebih baik sekarang” ucap Yeoni lalu terkekeh pelan.

Hoseok hanya tersenyum lalu ikut menyesap coklat panas miliknya. Mereka pun asik menikmati coklat panas mereka masing-masing.

“Yeoni….” Panggil Hoseok.

“Nde, oppa?”

“Apa kau juga marah kepadaku?”

Yeoni mengerutkan keningnya, lalu tertawa pelan “Kenapa harus marah?”

“Jadi kau tidak marah kepadaku?”

“Untuk apa?”

“Karena kemarin, aku hampir…emm….” Mendadak Hoseok menjadi sangat canggung. Yeoni langsung faham apa yang dimaksud Hoseok, bahwa ia sedang menyinggung kejadian kemarin. Disaat Hoseok hampir mencium Yeoni. “Tadi kau marah dihadapan Jimin, bahkan menamparnya. Tidakkah kau marah juga kepadaku?”

“Ah? I-i-i-itu….emm…” habis sudah kata-kata Yeoni. Gadis itu merasa terpojokkan oleh pertanyaan dari Hoseok.Kini semburat merah itu terpampang nyata di kedua pipi Yeoni.

“Kau marah kepadaku?” tanya Hoseok memandangi Yeoni.

“TIDAK!” jawab Yeoni spontan dan tanpa disadari. Gadis itu pun langsung menggerutu, mengutuk bibirnya sendiri yang terlalu jujur.

“Benarkah?” tanya Hoseok dengan sedikit ragu. Yeoni masih membungkam mulutnya rapat-rapat, sementara otaknya sibuk merangkai kata-kata untuk dijadikannya alasan.

Tetetapi, tiba-tiba suara klakson mobil membuat Yeoni dan Hoseok tersentak. Mereka fikir itu adalah suara klakson mobil Ibu Yeoni. Sehingga mereka berdua langsung menuju ke ruang tengah dan membongkar semua buku,agar kesannya mereka tengah belajar mengajar.

Tak lama kemudian terdengar bunyi bel rumah Hoseok,dengan segera Hoseok berlari kecil kearah pintu rumahnya. Sebelum membuka pintu, ia merapihkan penampilannya. Lalu dibukalah pintu besar itu untuk ibu Yeoni. Wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti kepada Hoseok.

Kini Ibu Yeoni telah duduk di sofa ruang tamu dengan Yeoni disampingnya, menghadap Hoseok yang duduk di sofa solonya.

“Ada apa Nyonya repot-repot datang kemari?”

“Begini. Aku senang Yeoni mendapat nilai yang begitu memuaskan karena berada dibawah bimbinganmu”Ibu yeoni mengaihkan pandangannya kearah Yeoni yang tengah menunduk “Sebentar lagi, hari kelulusan akan datang. Jadi Yeoni tidak akan lagi membutuhkan guru yang berani mengencani muridnya” sinis ibu Yeoni.

“Ibu….aku mohon jangan seperti ini.” mohon Yeoni.

“Diam kau Yeoni!!”

Hoseok dibuat tercengang dengan kata-kata ibu Yeoni “Maaf nyonya, apa yang anda maksud?”

Ibu Yeoni melempar beberapa lembaran foto ke atas meja. Yeoni dan Hoseok membelalakkan matanya terkejut. Bagaimana ibu Yeoni bisa mendapatkan foto-foto Yeoni dan Hoseok saat mereka berada di luar rumah? Bahkan foto itu menampakkan jika Yeoni sedang bersama Hoseok di supermarket, restoran, taman bermain dan tempat lainnya yang sebelumnya memang mereka kunjungi untuk bersenang-senang.

“Belum puas dengan buktiku?” sinis ibu Yeoni. Tiba-tiba seseorang wanita masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa setelah terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Wanita itu bersama beberapa orang bodyguardnya yang berjalan dibelakangnya.

“Ibu?!” Kaget Hoseok saat wanita itu berdiri dihadapannya.

PLAAK!!

Satu tamparan keras dari wanita itu mendarat dipipi Hoseok “Kau pikir apa yang sudah kau perbuat hah?!!” geram ibu Hoseok, sementara Hoseok menyentuh pipinya sendiri dengan menatap ibunya dengan tatapan seakan ia tak percaya ibunya akan menamparnya. Karena baru kali ini Hoseok melihat ibunya marah.

“Ehkm….permisi nyonya Jung. Mungkin bisa nanti saja kau memarahi anakmu. Sekarang aku ingin anakmu itu meminta maaf kepada anakku, Lee Yeoni ini dan berjanji untuk tidak menemui anakku lagi!” tegas ibu Yeoni.

“Ibu….aku mohon jangan lakukan ini. Ini semua salahku, aku yang meminta Hoseok oppa untuk mengajakku bermain di luar…aku-”

“Oppa?!” Tanya ibu Yeoni naik darah “Apakah kalian bahkan sudah berpacaran, hah?! Lihat kelakuan anakmu itu nyonya Jung!! Berani-beraninya dia menggoda anakku yang bahkan lebih muda dari anakmu!”

“Tolong jangan berbicara kasar seperti itu nyonya Lee. Pertama, anakku tidak mungkin menggoda anakmu. Kedua, cara apa yang kau gunakan untuk mendidik anakmu sampai-sampai ia lelah untuk melanjutkan hidupnya?”

Leoni terkejut, ibu Hoseok mengetahuinya. Gadis itu menatap manik mata Hoseok, lelaki itu mengangguk. Leoni ingat, Hoseok dekat dengan ibunya dan sering bertukar cerita. Ibu Hoseok melanjutkan kalimatnya.

“Ketiga, anakku, Hoseok-lah yang sudah menyelamatkan nyawa anakmu dan membuatnya mendapatkan haknya untuk bersenang-senang seperti anak SMA pada umumnya. Keempat, aku ingin bertanya, sebenarnya apa keuntungan yang kau dapat dengan bersikap keras terhadap anak kandungmu sendiri? Tidakkah kau terlalu serakah bila bertindak gegabah seperti ini dan malah menyalahkan orang lain”

Ibu Yeoni terdiam, ia sadar, ia malu. Tetapi dirinya tetap angkuh dan keras kepala “Aku hanya mendidiknya seperti yang diajarkan kepadaku dulu” tegas ibu Yeoni.

Ibu Hoseok menghela nafasnya “Karena kau ingin balas dendam? Karena kau tidak terima dengan beban yang dulu kau dapat, lalu memakai Yeoni, anakmu sendiri sebagai media untuk balas dendam?”

Kalimat Ibu Hoseok membuat Ibu Yeoni bungkam “Jika anakku memang bersalah. Baik aku maupun anakku Hoseok, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu dan Yeoni. Aku berjanji tidak akan membuat anakku menemui anakku lagi. Aku akan mengajakknya ikut tinggal bersamaku di London” Hoseok dan Yeoni terkejut mendengar perjanjian dari Ibu Hoseok.

“Ibu, kau tidak sungguh-sungguh kan? A-aku masih betah tinggal disini. Baik aku tidak akan menemui Yeoni lagi, tapi jangan membawaku ke London”

“Ini keputusan ibu dan ini demi kebaikan kita bersama”

Air mata Yeoni jatuh, gadis itu menunduk menahan isakannya. Hoseok hanya dapat memandangi Yeoni yang sedang menangis. Ingin rasanya memeluk gadis itu dan memberinya ketenangan. Namun baru saja Hoseok ingin melangkah,dua dari beberapa bodyguard mencengkram legan Hoseok.

“Lepaskan aku” tegas Hoseok menatap tajam kedua bodyguardnya, namun kedua manusia itu nampak menulikan telinganya.

“Baiklah, aku genggam kata-katamu!” ucap Ibu Yeoni lalu mencengkram pergelangan tangan Yeoni “Ayo Yeoni, kita pergi dari sini!!” lalu menarik
Yeoni keluar dari rumah Hoseok. Yeoni hanya menangis menatap Hoseok yang terus meronta-ronta ingin dilepaskan. Sampai pada akhirnya Yeoni benar-benar meninggalkan rumah Hoseok.

“Lepaskan aku!! Kalian pikir kalian siapa berani mengacuhkan perintahku” bentak Hoseok kepada kedua pengawalnya.

Ibu Hoseok berbalik, lalu menatap anaknya “Mereka pengawalku, mereka hanya boleh patuh kepadaku”

“Ibu…kau tidak serius dengan kata-kata ibu kan. Aku mohon perintahkan mereka untuk melepaskan ku dan biarkan aku mengejar Yeoni”

“Tidak!! Hoseok TIDAK!!!” bentak sang ibu.

“KENAPA?!”

“Kau mengatakan kepada ibu, jika kau menganggapnya seperti adikmu. Tetapi kenapa kau…” Ibu Hoseok menggantungkan kalimatnya “Hoseok, perasaanmu kepadanya terlalu jauh. Dan kau lihat sendiri ibunya juga tidak setuju….”

“Benarkah begitu? Apa salah jika lelaki berusaha memperuangkan cintanya?”

“Hoseok, kau boleh melakukan apa saja setelah masalah ini selesai”

“Tapi aku tidak bisa menerima ini ibu!”

“Pengawal….bawa Hoseok ke dalam mobil. Dan yang lainnya,kalian kemasi barang Hoseok”

***

Seoul,03/12/15

Yeoni menatap hujan salju diluar jendela perusahaannya. Gadis yang empat tahun lalu berpenampilan biasa, kini tumbuh menjad gadis yang nampak dewasa nan anggun. Rambutnya yang semakin panjang diikatnya kebelakang. Wajah yang dulu terkesan polos kini menjadi wajah yang cantik dengan polesan make up natural. Yeoni sudah merasakan kebebasan sekarang. Meski kebebasannya terhalang oleh pekerjaannya sebagai sekertaris ayahnya.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan Yeoni “Masuk” ujar Yeoni sedikit keras.

“Nuna!!” seru Seungkwan yang lebih dulu muncul setelah pintu terbuka, sementara Hara yang membuka pintu hanya bisa berkomat-kamit mengutuk Seungkwan. Seperti biasa, pemandangan ini yang Yeoni lihat saat jam makannya para pekerja.

Seungkwan berjalan terhuyung-huyung lalu duduk dikursi yang terletak tepat didepan meja Yeoni “Nuna…nuna kenapa tega memberiku pekerjaan sebanyak itu dengan deadline hanya 1 minggu?” keluh Seungkwan memelas.

Yeoni tersenyum “Bukankah itu tugasmu?”

“Sudahlah, jangan urusi bocah cengeng ini. Yeoni-ya, ayo kita makan
malam bersama!” ajak gadis bermarga Yoon itu.

“Lalu bagaimana denganku? Bahkan rasa-rasanya waktuku terbuang sia-sia hanya untuk ditinggal makan” keluh Seungkwan bermaksud mencoba membujuk Yeoni.

“Maafkan aku, ini karena atasanku yang menentukan deadline-nya” jawab Yeoni dengan lembut.

“Atasan-atasan……bos itu ayah nuna, dan ayah nuna itu juga pamanku .Tetapi kalian berdua sama saja tega menyiksaku” gerutu Seungkwan.

“Mau gajimu ku potong?” canda Yeoni.

“Potong saja, aku masih bisa minta ke ibu atau ayahku”

“Tidak mungkin. Karena mereka telah menyerahkanmu kepadaku, dan mereka hanya akan percaya kepadaku” Ucap Yeoni sontak disambut oleh ejekan dari Hara untuk Seungkwan.

Dan pada akhirnya Yeoni dan Hara pun pergi mencari tempat untuk
makan malam, kebetulan Hara dan Yeoni telah menyelesaikan tugas mereka dengan cepat. Sehingga mereka tinggal bersantai ria. Sementara Seungkwan tidak dapat ikut dengan mereka dengan alasan ingin lembur.
Hara mengajak Yeoni makan di sebuah restoran mewah ala Eropa yang akhir-akhir ini sering menjadi bahan perbincangan karena masakannya yang terkenal sangat mahal dan enak karena dimasak oleh koki-koki ternama dari luar negri.

“Sst…eonni, apa kau tidak salah tempat? Disini makanannya mahal-mahal dan tidak akan membuat perutmu kenyang” bisik Yeoni disaat mereka memilih menu.

“Kau ini, terlahir dari keluarga kaya, tetapi satu keping uang pun kau tidak rela menukarnya dengan makanan. Sudahlah, lagipula aku sedang kaya saat ini. Tenang saja, aku yang traktir. Lidahmu itu sekali-kali harus di manjakan dengan makanan-makanan mahal seperti ini” celutuk Hara tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu.

“Baiklah…jika eonni maunya begitu.”

Dari kejauhan, seorang pria tengah menghampiri beberapa pengunjung restorannya dan bercakap-cakap sejenak. Pria itu tak lain adalah seseorang yang mengelola restoran tersebut, dan ia sedang melakukan survei untuk keperluan perusahaanya. Pria itu menghampiri meja Hara dan Yeoni, disaat kedua gadis itu tengah melahap makan malam mereka.

“Eonni, aku ke toilet sebentar” pamit Yeoni langsung pergi meninggalkan Hara sendiri. Tepat saat itu juga, si pria memantung disaat ia berpapasan dengan Yeoni.

‘Sepertinya perempuan tadi terlihat tidak asing’ batin Hoseok. Namun dengan segera ia menepis semua khayalan-khayalan bodohnya “Mungkin hanya salah lihat” ucapnya kemudian. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

***

“Huah….ternyata benar enak sekali” ucap Yeoni dengan senyuman yang mengembang.Hara yang melihatnya ikut tersenyum.

“Ekhm….makannya, jangan menolak ajakan eonni-mu yang baik hati ini”

“Iya, terimakasih eonni. Lain kali aku akan mentraktir eonni juga”

“Oke! Aku genggam janjimu!”

Yeoni tersenyum melihat Hara nampak bahagia. Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti dihadapan mereka. Seseorang didalamnya menurunkan kaca jendela mobil tersebut “Chagiya, ayo kita pulang bersama!” seru Jangsuk, tunangan Hara.

“Oh,oppa! Tapi, bagaimana dengan Yeoni?” tanya Hara.

“Tidak masalah, kita bisa mengantarnya” jawab Jangsuk dengan enteng.

“Anio, aku membawa mobil. Eonni, kau pulang saja duluan” ucap Yeoni.

“Hmm…mobilmu kan ada di kantor, biar kami mengantarmu ke kantor kalau begitu” ucap Hara.

“Baiklah, jika aku tidak mengganggu” canda Yeoni.

Hara dan Jangsuk pun mengantar Yeoni ke gedung kantornya. Setelah itu Yeoni mengambil mobilnya dan bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah Yeoni, saat gadis itu berjalan melewati ruang tamu, tiba-tiba sang ibu memanggilnya.

“Yeoni, kemarilah. Ada yang ingin ibu bicarakan”

Gadis itu pun berjalan lalu duduk menghadap ibunya yang sedang duduk di sofa empuk, dengan segelas wine di tangannya “Ada apa bu? Ibu terlihat gelisah”

Sang ibu menghela nafasnya “Tadi siang ibu bertemu dengan seseorang. Ibu sangat malu saat bertemu dengannya. Wanita itu terus-terusan meminta maaf kepada ibu, sampai berlutut dihadapan ibu. Setelah itu dia bercerita banyak tentangmu, ibu tak tahu ceritanya memang benar atau tidak. Tetapi berkat wanita itu, ibu telah terbangun dari kebodohan ibu. Ibu sangat menyesal telah menyuruhmu belajar dengan sangat keras selama ini tanpa memikirkan perasaanmu…..”sang ibu mulai nenitikkan air matanya “ibu bukanlah orang tua yang baik untukmu nak, ibu pantas mati….”

“Ibu, itu tidak benar….apa yang ibu lakukan selama ini benar. Aku menjadi seseorang yang sukses seperti sekarang ini adalah berkat dorongan dari ibu. Ibu tidak salah…aku mohon janga salahkan diri ibu…” ucap Yeoni dengan mata berkaca-kaca.

Sang ibu langsung memeluk anak gadisnya itu dan menangis tersedu-sedu “Maafkan ibu nak….maafkan ibu….”

“Tidak papa ibu…” ucap Yeoni sembali mengusap lembut punggung ibunya, berharap ibunya lebih tenang dengan cara itu.

***

Yeoni terlihat gelisah ditempatnya. Kini ia tengah duduk ditempat yang sama, saat ia makan malam bersama dengan Hara, yang tak lain adalah restoran mewah milik Hoseok.

‘Datanglah ke restorannya, dan temui dia. Hanya ini yang dapat ibu lakukan untuk menebus kesalahan ibu selama ini’

Dengan antusias yang tinggi. Yeoni nekat mendatangi restoran itu sekali lagi dan mencari keberadaan Hoseok. Salah seorang pelayan menghampiri Yeoni dan berkata bahwa Hoseok sedang tidak ada digedung itu. Dengan perasaan kecewa, sedih, Yeoni meninggalkan tempat itu dengan berat hati.

Gadis itu pun kembali ke kantornya sendiri dan kini ia tengah duduk termenung didalam ruang kerjanya “Bisakah kita bertemu lagi, oppa?” gumamnya memandang langit-langit kantornya.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk” ucap Yeoni dengan lesu.

Pintu pun terbuka, menampakkan sesosok wanita yang terlihat begitu anggun. Yeoni tak mungkin melupakan wanita itu. Dan wanita itu adalah ibu Hoseok.

“Nyo-nyonya Jung…bagaimana bisa…” gumam Yeoni sembari berjalan mendekati wanita itu.

Wanita itu tersenyum dan berkata “Aku datang untuk menemuimu. Tak kusangka kau makin anggun dan bertambah dewasa”

“Terimakasih, nyonya Jung. Si-silahkan duduk”

Yeoni dan ibu Hoseok pun duduk berhadapan “Apa perlu saya ambilkan minuman nyonya?”

“Ah tidak usah, aku hanya bertamu sebentar”

“Jadi, ada kepentingan apa nyonya repot-repot datang menemui saya secara pribadi?” tanya Yeoni dengan ramah.

“Begini. Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan ibumu. Aku meminta maaf karena aku dan Hoseok terpaksa harus kembali ke Korea untuk melanjutkan bisnis kami. Yang secara tidak langsung itu akan membuatku mengingkari janjiku untuk tidak mempertemukanmu dengan Hoseok. Tetapi, untung saja ibumu mau mendengarkan ceritaku dan itu telah membuatnya sadar. Dan ia memberiku izin untuk mempertemukanmu dengan Hoseok”

Yeoni terdiam sejenak, perasaanya semakin tidak karuan mendengar nama lelaki itu disebut “Apa Hoseok oppa tahu?”

“Tidak. Aku merahasiakan ini darinya.”

Yeoni tersenyum tipis “Beberapa jam yang lalu saya mendatangi restorannya untuk menemuinya. Tetapi pelayan disana berkata jika ia sudah pergi dari sana” ucap Yeoni.

Ibu Hoseok nampak berfikir sejenak “Mungkin aku tahu anak itu ada dimana?”

“Be-benarkah itu nyonya?”

***

Dentingan piano mengalun lembut, menggema ke seluruh sudut ruangan rumah mewah itu. Sesosok pria lah yang memainkan alunan musik indah itu. Lagu yang sama dengan lagu yang dimainkan seorang gadis yang dulu pernah memenuhi ruang di hatinya.Seseorang yang tidak pernah dapat dilupakannya.

Hoseok menghentikan permainan pianonya, pria itu mengerang merasakan kerinduan yang mendalam. Rasa yang membuatnya ingin menangis dan marah. Namun Hoseok mencoba untuk menahannya, ia tidak ingin terjatuh lagi seperti saat ia kehilangan adik kandungnya dulu. Tujuannya datang ke rumah ini adalah untuk meredam kerinduannya kepada gadis bernama Lee Yeoni. Namun, takdir membuatnya semakin tersiksa dengan kerinduan yang ia rasakan.

GREP!!

Sebuah tangan mengalung di lehernya, memberikan sensasi hangat pada punggung Hoseok. Pria itu terkejut, lalu melepaskan kalungan tangan itu darinya dan berbalik. Mata Hoseok membulat sempurna mendapati Yeoni sudah berdiri di hadapannya,degan mata yang berkaca-kaca.

“Yeoni, apa ini benar kau?”

Gadis itu mengangguk “Oppa…” sepatah kata yang membuat Hoseok yakin jika gadis dihadapannya bukan khayalannya. Dengan segera Hosok memeluk gadis itu dengan erat, takut jika gadis itu akan kembali menghilang setelah ini.

“Yeoni….yeoni….” gumam Hoseok dengan suara seraknya.

“Nde oppa…aku disini” ucap Yeoni.

Hoseok memegang baru Yeoni dan memberi jarak diantara mereka. Hoseok menatap manik mata Yeoni dalam-dalam “Aku sangat merindukanmu….”

“Aku juga oppa…”

“Geureom, bagaimana kau bisa tahu ada disini?”

“Ibu oppa yang memberitahuku…”

“Tapi, bagaimana jika ibumu tahu?”

“Tidak akan jadi masalah, karena ibu sudah mengizinkanku untuk bertemu dengan oppa”

Hoseok tersenyum, dipeluknya kembali tubuh mungil Yeoni. Yeoni pun membalas pelukan Hoseok. Lelaki itu membelai rambut Yeoni, guna melepas kerinduannya selama empat tahun lamanya semenjak ia berpisah dengan Yeoni.

“Kita tidak akan berpisah lagi kan Yeoni…”

“Tentu oppa….”

“Yeoni”

“Nde oppa?”

“Meski umur kita berbeda jauh,salahkah aku jika mencintaimu?”

“Tidak oppa, aku tidak mempermasalahkan itu.Justru aku suka pria yang lebih dewasa dariku”

“Kalau begitu, kau juga mencintaiku?” tanya Hoseok membuat wajah Yeoni
merona. Hoseok melepaskan pelukan mereka dan menatap Yeoni yang nampak salah tingkah. Hoseok mendekatkan wajahnya dan mencium kening Yeoni.

“Saranghae…” ucap Hoseok.

“Na-nado…” ucap Yeoni malu-malu, sembari menutupi pipinya. Sedangkan Hoseok tambah gemas dengan tingkah Yeoni, dan mencubit pelan pipi Yeoni.

.

.

.

FIN
Endingnya aneh yah? :’v *abaikan
Aku ucapin terimakasih banyak buat yang udah ngeluangin waktu buat baca ff ini *kalo ada
Dan biar aku tahu siapa aja yang udah baca,jangan lupa berikan kritik dan saran kalian tentang ff ini.
Sekali lagi terimakasih ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s