Oppa and Me || BTS J-hope FanFiction || TwoShot [1/2]


Oppa& me poster

Author:ChaCha | Main Cast:Jung Hoseok(J-Hope)&Lee Yeoni(OC) | 
Genre:Family,Hurt/Comfort&Romance | Ratting : PG-14 | 
Disclaimer : This FF purely mine. No plagiarism and Silent Readers please So,keep>>RCL! ^^

Yeoni pov.

Apa arti dari kata ‘kehidupan’? Disaat hidup dengan dikaruniai umur panjang adalah harapan kebanyakan orang. Arti kehidupan bagiku adalah saat dimana aku harus menuruti semua hal yang menuntutku tanpa ada bantahan.

Sebenarnya hidupku tidak sesulit yang kalian bayangkan. Aku hanya perlu belajar sebagai pelajar pada umumnya. Tetapi karena orang tuaku adalah orang yang terpandang. Mereka menuntutku untuk meraih juara 1, minimal sesekolahku, belum lagi untuk bersaing siswa juara 1 di sekolah lainnya.

Pada umumnya remaja memiliki waktu untuk berkumpul dan bersenang-senang untuk menyegarkan otak mereka setelah berjam-jam otak mereka diasah. Baik itu jalan-jalan ke mall, menonton bioskop, makan bersama di café atau restoran, dan hal-hal lain yang umum dilakukan oleh remaja di sekolah menengah sepertiku.

Tapi apalah daya. Hanya karena jabatan keluargaku sebagai orang terpandang, membuat semua itu hanya di angan-anganku saja, bahkan jauh dari angan-anganku. Bagaimana tidak, otakku hanya terisi dengan materi-materi yang bahkan harus bertambah setiap detiknya.

Setiap hari aku belajar. Mulai pagi aku mulai berangkat sekolah dan malamnya sepulang sekolah pun aku masih diwajibkan untuk belajar di rumah. Tidak ada waktu istirahat untuk belajar, apalagi libur. Sampai saat ini, disaat pengumuman perolehan nilai, aku dibuat bahagia karena aku mendapat juara 1 pada kelas 2 ini.

Bahagiakah aku?

Ya.

Aku pulang ke rumah dengan sejuta kebahagiaan. Tidak sabar melihat wajah ayah dan ibu yang terlihat bahagia. Mereka akan bangga mendengarnya. Kuhampiri mereka di ruang tamu. Mereka nampak sudah menungguku.

“Aku pulang” ujarku.

“Bagaimana hasil ujianmu?” tanya ibuku dengan nada datar, sementara ayah nampak sedang menyeruput kopi kesukaannya.

“Aku mendapat nilai terbaik, bahkan siswa-siswa dari tiga sekolah terbaik pun kalah”

Nampak ibu segera menghampiriku dan memelukku dengan senyuman bahagianya “Yeoni, kau memang anak ibu yang paling pandai!!” serunya bangga.

“Ayah bangga padamu, kau bisa mengalahkan tiga sekolah terbaik itu. Setidaknya ayah akan menang juga pada rapat perolehan saham dengan pemilik tiga sekolah itu. Karena ayah punya penerus perusahaan yang hebat”

“Tapi, ayah…aku tidak bisa mengambil alih perusahaan. Aku ingin menjadi pianis yang hebat”

“Apapun impianmu, kau harus lebih mementingkan orang tuamu, Yeoni” ujar ayah nampak selalu acuh dengan impianku.

Ibu menepuk bahuku “Turuti saja permintaan ayahmu. Lagi pula, rugi menyia-nyiakan kepintaranmu itu” ucap ibu. Aku memandangnya dan tersenyum tipis. Inilah aku, hanya sebuah mesin pencetak uang, yang akan mereka gunakan untuk menghasilkan uang demi bertahan hidup.

“Ibu, karena aku sudah memenangkan juara 1 dari tiga sekolah terbaik. Bolehkah aku melakukan hal yang kinginkan?”

“Tentu saja boleh”

Aku tersenyum “Aku lelah bu,aku ingin istirahat. Tetapi sebelum itu,aku ingin jalan-jalan sebentar” ujarku antusias.

“Tetapi tidakkah lebih baik jika mengganti seragammu dulu?”

“Tidak masalah bu, apapun yang kukenakan tidak akan mengganggu jalanku’”

“Baiklah kau boleh pergi. Tapi jangan,lama-lama. Nanti kau terlalu lelah untuk belajar dengan ibu setelah jalan-jalan dan istirahat.”

“Tenang saja ibu”

***

Author pov.

Masih dengan seragam sekolahnya. Yeoni duduk didalam bus menuju pulau jeju. Ia memilih tempat yang agak jauh untuk menenangkan dirinya. Dalam batinnya ia bersorak gembira, karena ia akan melakukan impian keduanya agar ia terbebas dari siksaan hidupnya. Dan berhenti menjadi robot pencetak uang bagi orang tuanya. Ia sudah terlalu lelah belajar tanpa henti selama bertahun-tahun. Bahkan sejak kecil.

Kini Yeoni berada diatas tebing yang curam,dimana dibawah ada air laut dengan ombak yang begitu kencang. Yeoni berfikir, jika ia terjun ke bawah, ia akan terseret ombak dan tubuhnya akan hancur setelah terhantam batuan besar,maka ‘impian’ keduanya itu akan terwujud.

Yeoni sudah menganbil satu langkah. Dirinya menangis, mengingat hidupnya begitu sulit dan menyedihkan. Ayah dan ibunya juga tidak sayang kepadanya, mereka hanya buta akan harta. Orang tuanya tidak memperdulikannya ketika sakit. Juga teman-temannya yang tidak ada satu pun yang mau berteman dengannya karena iri akan kekayaan keluarga Yeoni dan juga prestasi Yeoni.

Dari kejauhan nampak seorang laki-laki sedang berjalan-jalan menikmati keindahan pulau itu. Saat sadar ada seorang gadis mengenakan seragam sedang melakukan percobaan bunuh diri, pria itu melepas kacamata hitamnya dan memastikan bahwa penglihatannya tidak berbohong.

Sampai menyadari bahwa gadis itu nyata. Lelaki itu menggerutu dan segera berlari menuju Yeoni yang ingin bunuh diri. Lelaki bersurai hitam itu menarik lengan Yeoni dengan kasar, dan segera menjauhkan gadis itu dari tepi tebing.

“Lepaskan aku!! Lepaskan!!!” pekik Yeoni dengan isak tangis yang menjadi-jadi.

“Kau ini masih muda, sudah mau melakukan hal senekat itu. Apa kau ini gila?!!” bentak lelaki yang menolongnya itu, lebih tepatnya menggagalkan impian kedua Yeoni.

Yeoni terdiam, dia masih menangis. Lelaki bernama Jung Ho Seok itu merasa iba melihat Yeoni begitu lemah dan pucat, apa lagi wajahnya yang berlinang air mata. Hoseok memeluk gadis yang belum ia kenal sama sekali itu dan memberikan ketenangan untuk gadis tersebut.

“Lepaskan aku, kumohon tuan jangan menghanjurkan impian keduaku. Aku sudah kehilangan impian pertamaku, dan tuan menghancurkan impian keduaku. Aku lelah hidup di dunia ini, aku lelah. Aku ingin tidur dengan tenang”

“Tenang kan dirimu dulu, baru berbicaralah dengan baik” ucap Hoseok dengan tulus. Ia masih saja memberikan belaian kasih sayang, sebagaimana ia memberikan belaian itu kepada almarhum adiknya yang meninggal karena penyakit hepatitis yang dideritanya.

Hoseok juga tidak mengerti, disaat ia ingin menghibur dirinya setelah kematian adik tercintanya. Dan saat ini? Seorang gadis remaja yang sangat asing itu, telah memasuki hidupnya tanpa permisi.

***

Hoseok hanya terdiam melihat Yeoni yang kini tengah memakan daging bulgogi dengan lahapnya, bahkan lahap sekali. Dalam hati Hoseok berkata ‘Apa benar, ini adalah gadis yang ingin bunuh diri yang kutemui beberapa menit yang lalu?’ Daripada Hoseok terus-menerus memikirkan hal itu dan malah menyinggung gadis ini nantinya, ia segera memulai tahap perkenalannya.

“Ekhm” Hoseok berdehem.

Yeoni yang menyadarinya langsung berhenti makan “Ma-maafkan saya, saya terlalu banyak makan. Sa-saya yang akan membayar ini semua nanti. Saya juga menyesal telah berbicara secara informal kepada tuan tadi.” Sesal Yeoni sembari menunduk.

Hoseok tersenyum “Tidak masalah dengan gogi nya. Tapi aku akan lebih sedih jika seseorang mengacuhkanku” ucap Hoseok, membuat Yeoni semakin menundukkan kepalanya.

“Maafkan saya….” Lirih Yeoni.

“Kalau begitu, bisakah kita berteman?” tawar Hoseok sembari mengulurkan tangannya.

“Apa?” tanya Yeoni nampak sangat terkejut.

“Kenapa? Responmu seperti baru mendengar tawaran seperti ini” canda Hoseok.

Dengan malu Yeoni menangguk “Ini pertama kalinya, saya mendengar seseorang menawarkan diri untuk menjadi teman saya.”

“Kau bercanda? Semua orang memiliki teman, kau tahu?” ujar Hoseok masih dengan nada bercanda.

Yeoni mengangguk dan tersenyum miris “Saya tahu, tetapi tidak untuk saya. Di sekolah, tidak ada satupun yang ingin berteman dengan saya.”

Senyuman Hoseok memudar, ia baru menyadari jika gadis ini memang tidak sedang bercanda. Sekali lagi Hoseok berdehem “Aku minta maaf, telah menyinggungmu. Tapi bunuh diri bukanlah jalan yang tepat”

“Ini adalah kesalahan saya karena telah berbagi cerita dengan tuan. Tetapi saya ingin bunuh diri bukan karena teman-teman saja.”

“Memangnya kenapa?”

“Saya tidak bisa bercerita kepada seseorang yang belum saya kenal”

“Oh, baiklah. Maka dari itu kita harus berteman. Nah….kenalkan namaku Jung Hoseok.”

“Nama saya Lee Yeoni, tuan”

“Hey!! Jangan berbicara formal kepadaku. Apa aku terlihat tua bagimu?” gerutu Hoseok.

“Maafkan saya tuan!! Saya mengaku bersalah”

“Ssttt!! Berhenti meminta maaf disaat kau tidak salah.”

Yeoni mengangguk patuh “Kalau begitu,saya harus berbicara secara informal? Apakah tidak masalah? Berapa umur tuan?”

“Tidak terlalu tua,hanya 22 tahun.”

“Apa? Itu terlalu jauh dengan umur saya. Saya baru 18 tahun jadi saya harus bersikap sopan kepada tuan.”

“Kalau begitu kenapa melakukan hal senekat itu diusiamu yang masih muda hah?!” bentak Hoseok karena tersinggung dengan usia kematian adiknya yang sama dengan usia Yeoni.

“Maafkan saya.”sesal Yeoni.

Hoseok sedikit menyesal karena telah membentak Yeoni “Lanjutkan makanmu saja” ujar nya.

“Baik” Yeoni pun mematuhinya dan kembali memakan daging Bulgoginya.

“Jika harus, aku ingin berbagi cerita denganmu. Aku memiliki adik perempuan seusiamu, dia baik, periang, humoris dan selalu membuat semua orang didekatnya bahagia. Dia memiliki banyak mimpi dan akan terus berusaha sekeras apapun demi mimpi-mimpinya terwujud. Namun setelah penyakit sialan itu menyerangnya, seketika semua mimpi itu kandas begitu saja. Ia membuat semua orang terdekatnya menjadi sedih.

Dan ia masih saja tersenyum dan bercanda demi membuat orang lain tersenyum disaat dirinya sudah terbaring lemah tanpa bisa beranjak sedikitpun. Saat itu ia berkata, membuat orang lain bahagia adalah satu-satunya impian yang tersisa dan selalu ingin ia capai, dan ia meninggalkan kami begitu saja setelah mengucapkannya.

Ia ingin kami bahagia tetapi meninggalkan kami begitu saja. Jadi aku berniat untuk membantunya, mewujudkan impiannya yang belum tercapai. Pertama aku ingin membuat diriku tenang dan menemukan kebahagiaanku, setelahnya aku ingin membuat keluargaku bahagia”

Yeoni terdiam dan melamun. Terbesit didalam pikirannya jika tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup, setidaknya untuk memenuhi impian lainnya mungkin. Hoseok tersenyum memandangi Yeoni. Dan lantas berkata “Kau sudah mengerti pentingnya untuk tetap hidup meski terasa berat?”

“Saya rasa….”

“Kalau begitu aku ingin tahu apa impian pertamamu dan alasan kau ingin bunuh diri”

“Bolehkah saya bercerita?”

“Tentu, aku memintamu untuk bercerita”

“Tapi, tuan harus berjanji untuk menjaga rahasia saya” Yeoni menunjukkan jari kelingkingnya. Hoseok tersenyum, lalu menautkan kelingkinnya dengan kelingking Yeoni.

“Kau juga harus janji, untuk ditidak berbicara formal denganku”

“Jika anda mengizinkan, tuan” Yeoni terkekeh.

“Sebenarnya, ini sangat bukanlah diriku. Di masa kecilku mereka sangat menyayangiku sehingga aku menjadi anak yang penuh keceriaan, bahkan setiap kata yang kuucapkan selalu membuat kedua orang tuaku tersenyum. Namun disaat aku bertambah besar, saat itu kira-kira mulai sekolah dasar. Mereka berubah menjadi pribadi yang keras, menuntutku melakukan hal-hal berbau kepemimpinan dan menjauhi hal-hal yang kekanakan. Bukankah diusia itu wajar jika aku bertingkah kekanakan? Aku memang masih anak-anak”

“Kau benar”

Yeoni menghela nafasnya, menahan emosinya “Mulai masuk sekolah dasar, ibuku menyuruhku untuk ikut les privat selama berjam-jam, bahkan sampai malam.Juga disaat aku dirawat di rumah sakit, ibuku mengundang guruku ke rumah sakit agar aku tetap belajar. Hal itu terus berlanjut sampai sekarang. Dan sekarang aku sudah menuruti keinginan ayah dan ibu. Aku mencapai juara satu dan mengalahkan tiga sekolah terbaik di kotaku.”

“Ddaebakk!”

Yeoni tersenyum “Terimakasih pujiannya”

“Tetapi mereka keterlaluan. Belajar memang penting, tetapi kau butuh istirahat juga bukan? Wah kenapa kau tidak melaporkan mereka ke pihak yang berwajib”

“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Bagaimanapun perlakuan mereka, mereka tetap orangtuaku. Dan meski hari ini aku mati pun mereka tetaplah orang tuaku”

“Aku rasa kau terlalu baik” cibir Hoseok.

Yeoni tersenyum “Meski aku merasa tidak ada sebuah keadilan didalam hidupku. Mulai sekarang aku akan lebih keras untuk mengejar mimpi-mimpiku yang lainnya. Aku sangat berterimakasih kepada tuan karena telah menolongku hari ini. Aku harus segera pulang dan istirahat sebelum kembali beraktifitas lagi besok pagi. Jika ada kesempatan aku akan menemui tuan lagi, lain kali.Aku pamit”

“Tunggu, dimana kau bersekolah?”

“Senju Highschool, tuan.”

“Oh, aku tahu sekolah itu. Apa aku boleh minta nomor ponselmu?”
Yeoni terkekeh “Ibu tidak mengizinkanku untuk memiliki benda pengganggu seperti itu”

“Ah…aku lupa jika ibumu seperti itu. Yasudah, sekarang pergilah…dipertemuan berikutnya kita berbincang lagi”

“Jika aku ada waktu”

“Kupastikan ada” yakin Hoseok sembari tersenyum penuh arti.

***

Keesokan harinya, setelah Yeoni pulang dari sekolahnya. Sang ibu sudah menjemputnya di depan sekolah. Dengan segera ia memasuki mobil ibunya dan segera pulang. Saat ibunya sibuk menyetir, tiba-tiba sang ibu membuka pembicaraan.

“Tadi ibu mendapat selembaran kertas dari seseorang di depan sekolahmu.”

“Apa itu bu?”

“Di kertas itu bertuliskan guru les privat lulusan eropa.Kelihatannya guru privat itu bisa ibu andalkan, jadi ibu tidak perlu mengawasimu belajar. Ibu akan mengantarmu ke tempatnya sekarang, aku sudah mendaftarkanmu dan kau diterima”

“Baiklah” ucap Yeoni pasrah.

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan ke sebuah rumah bergaya klasik. Yeoni turun dari mobilnya dan berdiri didepan rumah itu.

“Aku hanya akan mengantarmu. Kau bisa pulang naik taksi.” Ujar sang ibu memberikan beberapa lembar uang kepada Yeoni.

Yeoni menerima uang itu dan membungkuk “Terimakasih,ibu”
“Belajar dengan benar” ujar sang ibu sebelum kembali melajukan mobilnya menjauh dari kawasan perumahan elit tersebut.

Didepan pintu gerbang, Yeoni disambut oleh satpam penjaga rumah tersebut yang langsung membukakan gerbang untuk Yeoni. Yeoni pun memasuki kawasan rumah tersebut.  Saat sudah berada didepan pintu rumah. Yeoni memencet bel dua kali, lalu menunggu.

Seseorang membukakan pintu, lelaki itu tersenyum “Selamat datang”
Yeoni menatap lelaki dihadapannya dengan berbinar-binar “Astaga, ini benar-benar tuan? Ini benar-benar…..ini benar-benar kebetulan yang sangat langka” seru Yeoni nampak begitu bahagia.

“Kau menyebut ini dengan sebuah kebetulan, tetapi ini terjadi dengan sengaja. Ini rencanaku untuk membantumu. Ayo masuk!”

Dengan senang hati, Yeoni memasuki rumah Hoseok dan memulai perbincangan mereka.

“Kau sudah terlalu banyak belajar. Jadi sekarang kita makan dulu. Kau baru pulang sekolah dan belum makan kan?”

“Iya,belum” jawab Yeoni sembari tersenyum malu.
Hoseok tersenyum dengan penuh percaya diri “Mari,kuantar ke ruang makan”

“Baik!” ucap Yeoni dengan senyuman yang nampak begitu manis.

Gadis itu mengikuti langkah Hoseok, menelusuri lorong rumah yang begitu mewah dengan perabotan-perabotan bergaya klasik dan hiasan-hiasan yang begitu indah, membuat Yeoni tak henti-hentinya memuji kemewahan rumah itu.

Diantara foto-foto Hoseok yang terpajang didinding, ada sebuah bingkai foto yang begitu besar. Disana menampakkan potret keluarga Hoseok tak terkecuali almarhum adik Hoseok yang begitu cantik dan anggun dengan gaun putihnya.

Yeoni duduk di kursinya dan menunggu Hoseok yang tengah menghidangkan masakannya.Gadis itu bersorak ketika melihat daging bulgogi diantara sekian banyak jenis makanan yang dimasak Hoseok.

“Wah,tuan benar-benar koki terhebat!” puji Yeoni.

Melihat ekspresi lucu Yeoni, Hoseok tertawa “Kalau begitu langsung makan saja” Hoseok menaruh daging bulgogi itu ke atas piring Yeoni

“Chaa…ini untukmu…”

“Baiklah.Aku akan menikmatinya!!” seru Yeoni lalu memakan daging tersebut.Yeoni tersenyum setelah merasakan betapa enaknya masakan Hoseok. “Baru kali ini,seseorang memasak dengan tulus untukku”

Hoseok memandangi Yeoni.Gadis itu juga memandang Hoseok lalu menyengir “Ibuku tidak bisa memasak, dia terlalu sibuk. Jadi aku hanya makan masakan buatan pembantu di rumahku” ucap Yeoni dengan nada lirih.

Yeoni menunduk“Dulu sewaktu aku masih sekolah dasar,terkadang aku merasa iri saat teman-temanku memamerkan bekal makanan buatan ibu mereka.Haahh….jadi aku meminta bibi pembantuku untuk membuatkan bekal untukku” Yeoni tertawa miris.

Hoseok terdiam sejenak, lalu kembali mendongakkan kepalanya. Lelaki itu menyentil kening Yeoni, membuat gadis itu mengaduh “Kau ini, tidak bisakah berhenti mengoceh saat makan?” geram Hoseok.

“Maaf” lirih Yeoni.

Hoseok tersenyum, dibelainya lembut puncak kepala Yeoni “Seharusnya aku yang meminta maaf” Hoseok menghela nafasnya sejenak “Lebih baik kau lanjutkan makanmu dulu”

Yeoni mengangguk patuh “Eum!” lalu menaruh daging bulgogi diatas nasi Hoseok “Kau juga harus makan guru”

“Hahaha….kau berani memanggilku guru sekarang” canda Hoseok.
“Karena kau adalah guruku”

Setelah tak berapa lama makan dengan sedikit berbincang-bincang. Hoseok dan Yeoni melanjutkan perbincangan mereka di ruang tamu. Dan saat itu juga Yeoni mulai mengenal Hoseok lebih jauh. Begitu pula sebaliknya.

Kini Hoseok sedang memandangi Yeoni yang sedang membaca teks pidato dalam bahasa Inggris, untuk tugas sekolahnya. Setelah Yeoni selesai menutup pidatonya, ia meminta pendapat Hoseok.

“Bagaimana?”

Hoseok bertepuk tangan “Pengucapanmu sudah bagus, ekspresimu juga sesuai dengan kalimat yang kau baca. Kau hanya tinggal menghafalnya saja”

“Baiklah…aku akan menghafalnya dengan baik” Yeoni tersenyum bahagia, gadis itu menghela nafasnya dan menatap Hoseok “Karena tuan, belajar jadi lebih menyenangkan dari pada biasanya”
Hoseok terkekeh “Benar. Kau jadi lebih senang karena guru lesmu setampan diriku”

Spontan ucapan Hoseok mengundang tawa Yeoni. Hoseok yang kurang terima dirinya ditertawakan langsung bertanya “Wae? Kenapa kau tertawa seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu senang memiliki guru selucu tuan”

“Yaah….jadi kau tertawa karena menganggap aku sedang melucu?” ujar
Hoseok dengan sedikit menahan senyumannya. Tak dipungkiri ia juga bahagia melihat Yeoni tertawa bebas seperti itu.

“Maafkan aku.” Ujar Yeoni meredakan tawanya.

“Hah….kau terlihat lebih segar setelah meledekku” canda Hoseok.

“Anio,bukan begitu”

“Lalu apa?”

“Rahasia” kekeh Yeoni.

“Heish kau ini, sama saja menggemaskan seperti adikku” canda Hoseok membuat senyuman Yeoni berubah menjadi senyuman yang terlihat kikuk.

Dengan hati-hati Yeoni bertanya “Tuan bolehkah aku bertanya?”

“Silahkan”

“Tapi tuan harus beranji, tidak akan marah kepadaku” lirih Yeoni.

“Kenapa seserius itu. Aku jadi penasaran, cepat katakan. Aku berjanji tidak akan marah kepadamu”

Yeoni mengangguk “Apakah tuan, masih sedih atas kepergian adik tuan?”

“Hahaha…ternyata masalah itu. Tidak papa, aku sudah merelakan kepergiannya. Aku yakin dia akan tenang jika melihatku bahagia” tegas Hoseok.

Yeoni tersenyum “Sukurlah. Aku juga ikut senang”

Mendengar gumaman Yeoni, Hoseok mengerutkan keningnya
“Memangnya kenapa?”

“N-nde? Ah…tidak apa-apa hanya…hanya ingin bertanya saja” jawab Yeoni
“Itu. Sebenarnya aku ingin membalas kebaikan tuan, tetapi aku pikir tuan sudah memiliki segalanya. Jadi, aku-”belum selesai melanjutkan, kalimat Yeoni terpotong oleh gumaman Hoseok.

“Jadi ingin membalas budi ya? Hmmm” gumam Hoseok, Yeoni hanya terdiam memandangi Hoseok yang tengah berfikir. Beberapa detik kemudian Hoseok mendekati Yeoni dan berbisik “Panggil aku ‘Oppa’ ”

“NDE?!!” tanya Yeoni dengan nada yang meninggi karena terkejut dengan permintaan Hoseok.

“Wae? Kau tidak mau?” tanya Hoseok mendadak berakting memelas “Aku akan sangat merindukan adikku, yang memanggilku ‘oppa’ setiap hari”
Mengerti maksud dari Hoseok, Yeoni baru sadar jika dirinya telah salah paham karena sebutan itu “Ah…aku minta maaf. Baiklah….aku akan memanggilmu oppa…” seru Yeoni memohon.

“Apa? Coba kau panggil aku sekali lagi” ucap Hoseok berhenti memelas.
Yeoni menggaruk tengkuknya sejenak “Ho-Hoseok oppa….”

Hoseok pun langsung berbunga-bunga.
“YEONIYAAAAAAA!!!!! GOMAWO!! GOMAWO!! GOMAWO!! GOMAWO!! GOMAWO!!”

Bahkan Yeoni pun heran, kenapa bisa seorang Hoseok yang ia kenal sangat manly sekarang menjadi sosok yang aneh dan tempramen.

***
Hari demi hari belalu begitu indah bagi Yeoni. Setiap harinya Hoseok selalu memberinya kejutan yang berbeda untuknya.Baik itu mengajarinya memasak, mengajak Yeoni keluar untuk berjalan-jalan, dan hal-hal lainnya yang membuat Yeoni bisa merasakan, apa itu kebebasan dan kebahagiaan yang sebenarnya.

Jika dilihat dari luar, mereka terlihat sangat serasi. Dari segi hobi dan kesenangan mereka pun, keduanya memiliki banyak kesamaan. Mereka sadar, selama ini selalu ada perasaan lain yang hadir diantara mereka.
Yeoni membungkam mulutnya terkejut, saat melihat sebuah grand piano berada di dalam rumah Hoseok. Sementara Hoseok tersenyum penuh arti, melihat Yeoni yang begitu menyukai pemberiannya yang satu itu.

“Kau suka?” tanya Hoseok.

Yeoni yang masih terharu dengan kejutan Hoseok pun mengangguk “Baru kemarin aku mengatakan, aku suka bermain piano. Oppa langsung memberikan piano mahal ini untukku?”

“Ah..bukan, ini piano hadiah natal dari almarhum kakekku. Aku hanya mengangkutnya dari rumah kakek, karena tidak ada yang memakai piano ini. Yah..saat aku masih SMA dan masih tinggal di rumah kakek, aku sering memainkan piano ini.”

“Ommo…” kagum Yeoni saat menyentuh bagian atas tuts-tuts piano itu. Yeoni duduk dikursi, menghadap piano itu dan mulai memainkan alunan musik yang indah.

Hoseok memejamkan matanya, menikmati alunan musik yang begitu lembut dan menyegarkan pikirannya. Yeoni juga nampak menikmati permainan pianonya. Seulas senyuman manis terukir dibibirnya.

‘Yeoni….kenapa jantungku selalu berdegup kencang saat melihat senyumanmu. Bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadamu? Salahkah, jika aku menginginkan kau merasakan perasaan yang sama denganku?’ erang Hoseok dalam hatinya. Lelaki itu menatap Yeoni tanpa berpaling.
Musik berhenti, membuyarkan lamunan Hoseok . Lelaki itu bertepuk tangan dan tersenyum.

“Hufft….jika ibu mengetahui aku kemari untuk tidak belajar, ia akan sangat marah. Dan lebih marah lagi jika ia tahu aku sedang bermain piano” gerutu Yeoni.

Hoseok membelai puncak kepala Yeoni, membuat gadis itu merasa nyaman “Kau bisa bermain piano disini, kapanpun kau mau”
Yeoni tersenyum “Gomawo, oppa…”

Hoseok menatap manik mata Yeoni, dalam batinnya ia berteriak ingin menyatakan perasaannya kepada Yeoni. “Yeoni…..”

“Nde….oppa?”

Lama sekali Hoseok terdiam, namun tiba-tiba nalurinya berubah. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Yeoni, hal itu sontak membuat Yeoni tersentak dan segera menutup matanya.

4 senti…..3 senti…..2 senti…

Pada akhirnya Hoseok menjauhkan wajahnya dari Yeoni. Sementara Yeoni masih memejamkan matanya. Hoseok menunjukkan raut muka yang sulit diartikan, namun pada akhirnya ia terseyum tipis lalu menyentil kening Yeoni.

“Ayo kita makan. Aku akan memasak lagi untukmu” ucap Hoseok sembari berjalan mendahului.

Yeoni sudah membuka matanya dan langsung mengelus keningnya yang terkena sentilan dari Hoseok. Gadis itu berhenti mengusap keningnya. Ia meraba dadanya. Dapat ia rasakan, jantungnya berdetak tidak karuan “Tadi itu apa?” gumam Yeoni

#

#

#

To Be Continued…

 

Iklan

3 respons untuk ‘Oppa and Me || BTS J-hope FanFiction || TwoShot [1/2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s